12 Minggu
Ini postingan tentang kamu yang entah keberapa. Tulisan bodoh dari gadis tolol yang tak pernah kamu gubris sama sekali. Tulisan di sini tentu saja tak pernah kamu baca, kamu lihat, apalagi kamu pahami. Disini ada seseorang yang setia menulis tentang kamu setiap mingu, setiap hari kamis, meskipun setiap mengingatmu hatinya selalu teriris.
Kali ini, aku ingin bercerita tentang seorang wanita yang sedang sangat sibuk untuk melakukan banyak hal. Berusaha mencari kesibukan baru agar dia tak lagi punya celah untuk mengingat kamu. Wanita ini, tentu saja kamu sangat mengenalnya. Dia pernah jadi bagian dalam hari-hari kamu sampai saat ini. Lucu ya, betapa kebersamaan yang cukup lama ini bahkan bisa melekat selama tiga tahun. Wanita ini adalah tempat kamu dan teman-temanmu sempat berbagi tawa dan canda, sebelum akhirnya kamu membuat dia kecewa.
Ini masih awal cerita, sekarang dia sudah jadi wanita yang berbeda. Dia berusaha untuk melepaskan kamu perlahan dari hati dan ingatannya. Wanita ini berjuang sangat keras. Dia mencari teman curhat, mencari orang-orang yang senasib dengannya, dan berkenalan dengan sosok-sosok baru. Hingga pada akhirnya dia tahu, bagaimana kamu yang sebenarnya. Iya dia tahu bagaimana kamu.
Kamu adalah seorang pria batak yang berhasil membuatnya selalu merasa ingin melewati setiap harinya untuk slalu ada disekitarnya, meskipun pada akhirnya dia tahu bahwa keinginannya itu tak akan pernah terwujud.
Tapi, kembali ke bagian awal. Dia wanita bodoh, perempuan tolol yang mau-maunya memendam perasaan selama ini. Dalam rasa yang begitu dahsyatnya, dia seringkali bertemu Tuhan. Bercerita dengan bulir air mata di pipinya. Mengadu dan terus memohon dengan bibir membeku; dia menyesali segala kebodohannya. Mengapa dia bisa begitu mudah jatuh cinta dan begitu sulit untuk menghilangkannya?
Sayang, wanita itu tahu sekarang kamu sudah lebih bahagia dengan wanita pilihanmu. Dari dunia seratus empat puluh karakter, dia bisa menduga; bahwa kamu sudah jadi pria berbeda. Kamu bukanlagi matahari yang menghangatkan mendungnya. Kamu bukan lagi lembayung yang mengisis sisi gelapnya. Kamu sekarang jadi awan hitam, sayang. Kamu jadi biru paling kelabu, sebab air matanya tak pernah surut selalu mengalir.
Kali ini, ceritanya masih sama. Wanita ini begitu tahu kamu suka apa?. Dia mengajaknya bercakap-cakap malam itu. Ada rasa rindu di dadanya, ada rasa hampa karena kekosongan yang selama ini dia lewati tanpa kamu. Kadang, kamu tak tahu perasaan seseorang yang begitu bahagia bisa berbicara denganmu, meskipun kamu mengartikan pembicaraan itu hanyalah pembicaraan biasa. Tapi, sayang wanita berbeda. Segala hal tentangmu. Tak pernah kecil di matanya.
Cahaya penunjukku. Waktu menulis ini, wanita yang ku ceritakan tadi sudah tak lagi bisa menulis banyak tentangmu. Tepat dua belas minggu setelah kepergian kamu, ternyata dia sadar bahwa ada yang perlu diperjuangkan, selain rasa rindunya terhadapmu. Kamu yang sekarang begitu berbeda telah begitu mengecewakan hatinya. Mengapa kamu tak tahu, sayang? Bahwa orang yang paling tersakiti oleh perubahanmu adalah orang yang paling mencintaimu, meskipun kamu selalu menganggap dia abu-abu.
Malam ini, sepertinya masih sama. Wanita itu ingat betapa setiap harinya selama dua tahun itu, kamu selalu ada disekitarnya. Dia bahkan tak tahu mengapa dia harus mencintai pria batak seperti kamu. Cintanya meledak begitu saja, ketika kau buat dia nyaman, ketika kaubuat dia begitu mengagumimu, mengapa kau malah membiarkan dia menggigil karena kepergianmu?
Dengan bekas perasaan dihatinya yang belum benar-benar hilang. Dia masih berusaha terus melupakanmu, dia berusaha melangkah dengan kekuatannya sendiri. Kamu tak tahu, sayang, dia begitu kuat, lebih kuat dari pada yang kau bayangkan. Memang belum seratus persen dia melupakanmu. Tapi, dia percaya waktu itu akan datang, saat dia bebas menertawakan perasaanya dan kamu yang justru heran terhadapnya.
Oke,sudah hampir dua belas paragraf. Wanita ini cuma mau bilang padamu, cahaya penunjukku, bahwa sebenarnya dia belum bisa melupakanmu. Sebenarnya juga, masih ada cinta dalam hatinya. Tapi, dia berusaha tak lagi menggubris perasaanya sendiri, karena dia tahu; kamu tidak akan pernah perduli dengan perasaanya.
Oh, iya. Kamu mau tahu ya, siapa wanita itu? Baiklah aku menyerah.
Wanita itu adalah . . . . . .
Okta Tiastuti di 00.41
Komentar
Posting Komentar